Tampilkan postingan dengan label survival. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label survival. Tampilkan semua postingan

Cara Mendapatkan Air saat Situasi Survival


Dalam situasi survival air merupakan prioritas utama yang harus diperoleh. Manusia bisa bertahan 3 minggu tanpa makan akan tetapi hanya mampu bertahan 3 hari tanpa minum. Ada beberapa cara untuk mendapatkan air di alam bebas. 

Dengan Cara Kondensasi
Salah satu cara untuk mendapatkan air hádala dengan cara kondensasi yang dihasilkan oleh tumbuhan. Hal pertama yang dilakukan adalah mencari ranting pohon yang banyak daunnya (pastikan tidak menggunakan tumbuhan yang mengandung racun). Semakin banyak daunnya akan lebih bagus serta semakin besar tumbuhan/pohonnya semakin baik karena semakin besar juga sistem akarnya yang mengumpulkan air di dalam tanah.
 

Gunakan kantong plastik yang bening karena akan memungkinkan proses fotosintesis tetap berlangsung. Perlu diperhatikan, penempatan kantung plastik haruslah pada bagian pohon yang mendapatkan sinar matahari sepanjang hari.

Masukan ranting penuh daun yang dipilih seluruhnya ke dalam kantung plastik dan sisakan cukup ruang kosong untuk udara dan masukan batu kecil yang bersih di bagian bawah agar membentuk mengerucut ke bawah tempat nanti di mana air terkumpul. Pastikan juga tidak ada duri atau ranting tajam yang membuat bolong kantong plastik tersebut.

Kemudian ikat dengan erat bagian ujung plastik pada dahan/ranting, pastikan tidak ada kebocoran. Uap air hasil fotosintesis yang keluar dari daun tumbuhan akan tertahan atau terkondensasi di bagian dalam kantong plastik yang kemudian mengalir dan terkumpul di bagian bawah plastik yang diberi pemberat batu kecil tadi.

Sebaiknya sebelum membungkus ranting berdaun dengan kantong plastik pastikan terlebih dahulu apakah ada serangga, ulat atau hal-hal yang nantinya akan mengotori air yang terkumpul didalam plastik nantinya.

Jika anda membuka kantong plastik untuk mengambil airnya, maka anda harus mengulang lagi prosesnya dari awal. Jadi salah satu cara yang efektif untuk mendapatkan air yang ada di dalamnya bisa menggunakan selang kecil namun harus dipastikan untuk menutup selang kecil ini dengan cara mengikatnya sehinga tidak ada kebocoran uap.

Agar proses mendapatkan air ini bisa efektif lakukan di beberapa ranting, sehingga anda bisa mendapatkan air yang cukup.

Dengan Cara mengumpulkan embun
Selain itu air juga bisa diperoleh dari embun yang turun di malam hari. Ada 2 cara yang bisa kita lakukan.

Embun yang turun akan menutupi daun dan rerumputan. Ini bisa dijadikan sebagai sumber untuk mendapatkan air. Cara paling mudah adalah dengan mengikatkan kain katun bersih (baju) yang menyerap air di kaki anda lalu berjalanlah melewati rerumputan yang tertutup embun.


Kemudian air bisa diperoleh dengan cara memeras kain yang sudah basah tadi atau juga bisa dengan cara mengisapnya. Cara ini harus dilakukan pada pagi hari sekali sebelum cahaya matahari keluar dan membuat embun di daun-daun dan rumput jadi menguap.

Cara lainnya adalah dengan memerangkap embun yang turun di malam hari pada wadah plastik.


Caranya harus membuat lubang di tanah dengan kedalaman yang secukupnya dan kemudian tutup dengan lembar plastik. Tempatkan plastik dengan mengendurkannya atau mencekung, beri pemberat di bagian tengah plastik sehingga embunnya bisa mengumpul dan mudah untuk di ambil.

Agar plastiknya tetap pada posisi, tidak berubah karena angin, berilah pemberat di bagian pinggir. Untuk memudahkan mengambil air yang tergenang, gunakan sedotan sehingga anda tidak merusak plastiknya.

Situasi survival bisa terjadi tanpa anda perkirakan sebelumnya. Sebaiknya dalam survival kits anda selalu sertakan item-item yang akan sangat berguna. Seperti teknis yang diterangkan tadi, lembar kantong plastik, selang kecil atau sedotan akan sangat membantu dalam mempermudah anda mendapatkan air.

Yang Harus di Lakukan Jika Tersesat di Gunung


Ambil semua langkah untuk mencegah Anda menjadi tersesat.

Pelajarilah teknis navigasi darat (peta dan kompas). Sebelum anda mendaki gunung, pelajari gunung yang akan didaki baik dari peta dan catatancatatan perjalanan para pendaki yang sudah pernah kesana, agar anda bisa mengenal medan gunung yang akan anda daki, kenali akses masuk dan keluarnya, sungai, gununggunung disekitarnya serta bentukbentukan alam yang ada pada gunung tersebut.

Beritahukan detail rencana perjalanan pendakian anda pada keluarga dan teman. Saat anda mulai mendaki amati topografi dan bentukan alam di sekitar anda (pegunungan, kenali puncakpuncaknya, sungai, dll). Semua itu akan sangat membantu anda dalam bernavigasi dalam keadaan mendesak.

Selalu membawa peta dan kompas saat mendaki gunung. Saat anda tersesat, berhentilah, buka peta anda dan amati sekeliling anda untuk menemukan tandatanda alam yang bisa anda kenali. Sedikit orang yang benarbenartetap tersasar setelah dengan tenang mempelajari peta saat dia merasa kehilangan arah.

Untuk membantu mempermudah orientasi medan, anda mungkin ingin naik keatas punggungan bukit sehingga anda bisa dengan mudah memandang dan mengenali tandatanda alam yang seperti bukit, puncak-puncak, sungai  yang ada pada peta topografi anda. Tapi jangan sampai terlalu jauh melenceng dari rute asal anda, terlebih jika anda tidak memiliki peta. Jika anda telah memberi tahu keluarga atau temanteman pendaki gunung anda rencana rute pendakian anda, maka kedaerah itulah pasti tim SAR akan bergerak mencari Anda.

Jika anda terus tersasar, maka lakukan tahapan dasar dari survival yaitu S.T.O.P. (Stop/berhenti, Think/ berpikir, Observe/mengamati dan Plan/rencana). Cobalah untuk kembali ke lokasi terakhir ada tersasar atau lokasi terakhir yang anda kenali jika masih dalam jarak yang wajar. Putuskan tindakan yang akan dilakukan dan taatilah keputusan itu, yang paling penting adalah, jangan panik. Energi anda akan sangat dibutuhkan nantinya.

Jika Anda tidak dapat menemukan tanda‐tanda alam yang dikenali pada saat kembali ke lokasi awal tersasar, maka diam di sana, jika anda membawa peluit, tiuplah dengan interval waktu, untuk memberikan sinyal atau tanda pada pendaki lain yang mungkin kebetulan berada tidak jauh dari daerah tersebut sehingga bisa membantu Anda kembali ke rute pendakian yang benar.

Memasak di Gunung


Hampir sebagian besar pendaki, terutama pria, pandai memasak. Mulai dari memasak makanan praktis siap saji sampai makanan rumahan yang diolah dengan apik. Bukan ingin bicara gender, tapi pada kenyataannya seperti itulah. Mereka pandai mengatur logistic, menyusun menu hingga mengolah menu.

Bagi kebanyakan pendaki, memasak pada saat pendakian merupakan salah satu kegiatan yang sama menariknya dengan pendakian itu sendiri. Seolah seperti ditantang dimana harus menyiapkan makanan pada saat kondisi tubuh cukup lelah, dingin serta tuntutan akan perbaikan kalori untuk bekal melanjutkan perjalanan.

Sebelum memikirkan makanan apa yang akan dibawa serta bagaimana mengolahnya, hal yang menjadi perhatian adalah lama perjalanan serta karakteristik tempat atau gunung yang akan didaki.

Lama perjalanan akan mempengaruhi jenis makanan yang akan dibawa. Berkenaan dengan kepraktisan mengemas, daya tahan bahan makanan serta kemudahan mengolah. Sedangkan karekteristik lokasi atau gunung yang akan didaki, berkenaan dengan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pendakian itu sendiri, ketersediaan air di jalur pendakian serta tingkat kesulitannya.

Managemen logistik yang baik lebih diutamakan. Setelah menentukan berapa hari perjalanan, berikutnya memilih alat masak, terutama kompor yang akan dibawa. Alat masak yang telah dikenal luas oleh para pendaki, mulai dari yang berbahan bakar paraffin, gas, spirtus hingga multifuel. Kompor tentara dengan bahan bakar paraffin merupakan salah satu kompor yang masih sering dipakai dikalangan pendaki. Mudah dikemas dan cukup praktis masuk kedalam carrier. Namun memiliki aroma yang kurang sedap, tetapi cukup handal untuk dijadikan perlengkapan cadangan. Kompor butterfly dengan bahan bakar gas juga merupakan salah satu kompor yang sama praktisnya saat dikemas dan masuk kedalam carrier. Bahan bakarnya juga banyak tersedia di supermarket-supermarket, dan masih banyak lagi varian kompor-kompor outdoor yang banyak tersedia dengan masing-masing keunggulannya serta kekurangnnya.

Menyusun menu menjadi salah satu kegiatan yang juga mengasikkan, merupakan salah satu seni selain packing perlengkapan pendakian. Sebisa mungkin menu yang disusun bukanlah menu yang membutuhkan waktu lama untuk diolah, bukan pula menu yang kurang kandungan nutrisinya. Variasi menu yang menarik terkadang membuat perjalanan menjadi lebih menarik.

Makanan yang dikonsumsi tidak sekedar kenyang sebaiknya menghindari makanan dengan kadar karbohidrat tinggi seperti nasi. Karena nasi membutuhkan waktu enam jam untuk diolah oleh tubuh menjadi energy. Pilih makanan dengan kadar protein tinggi, seperti roti gandum isi keju atau bisa juga mash potato

Kemaslah bahan makanan sesuai dengan kategorinya. Ada beberapa cara mengemas bahan makanan. Pertama mengemas secara terpisah-pisah sesuai jenisnya misalnya sayuran, bumbu, lauk pauk, buah, minuman. Kedua mengemas berdasarkan jenis masakan, misalnya menu sayuran asam, maka bahan masakan dikemas dalam satu bungkus isinya adalah bahan baku sayur asam berikut bumbunya dan yang cara lainnya yang menurut saya juga praktis adalah mengemas makanan sesuai hari untuk tiga kali makan dalam satu kantong. Cara ini dirasa lebih hemat dan dapat mengontrol logistic lebih baik. Cara-cara tersebut tentunya bukan merupakan cara yang baku, semuanya disesuaikan berdasarkan kebutuhan serta kebiasaan.

Membuat Jerat


Ada berbagai jenis jerat. Jerat dengan teknis sederhana, seperti jerat dari serat alam dan sebagainya, ada banyak sekali jerat dalam teknis pengetahuan survival. Dewasa ini juga jerat bisa lebih mudah dibuat dengan menggunakan perangkap kawat, Jerat kaki, perangkap kandang dan lain‐lain. Tapi untuk kali ini, mari kita bahas jerat sederhana. Jerat alami sederhana dapat sepenuhnya dibuat dan diatur dengan bahan yang dapat dikumpulkan di lokasi. Anda bahkan dapat menenun dan memintal sendiri tali dari serat kulit kayu. Namun kekurangannya adalah ada banyak kemungkinan kesalahan dengan perangkap bahan alami, jika tidak betul menyiapkan bahan‐bahannya. Jika Anda belum pernah membuat jerat sebelumnya, atau belum pernah beruntung dalam membuat jerat, berikut ada beberapa hal‐hal yang perlu anda perhatikan dalam membuat sebuah jerat atau perangkap:


Saat akan membuat jerat, dalam pikiran anda sudah mengetahui binatang apa yang akan anda jerat. Jangan hanya memasang jerat di mana pun untuk apa pun, alias asal jadi. Tahu kebiasaan binatang yang akan jadi sasaran jerat anda, perburuannya dan umpan apa yang cocok dipakai untuk menjeratnya.  Binatang‐binatang yang memiliki penciuman tajam akan sulit menolak makanan yang memiliki aroma yang tajam, jadi gunakan umpat yang tepat untuk menangkap binatang yang tepat.
Trapping atau jerat adalah permainan angka. Buatlah sebanyak sebisa mungkin jerat/perangkap dan ini akan memiliki kemungkinan keberhasilan yang tinggi juga. Hapus segala bau dan aroma pada tangan dan perlengkapan pembuat jerat anda sebelum membuat sebuah jerat, dan pastikan anda tidak meninggalkan bau bekas anda pada areal jerat anda, binatang mengetahui bau manusia dan sudah pasti akan menghindari jerat yang anda buat. Pastikan bahwa jerat yang dibuat cukup kuat bagi hewan besar yang mungkin saja akan tertangkap.

Jika anda membuat jerat kawat tetap, pastikan bahwa binatang tidak bisa merusaknya atau melepaskan diri dari titik ikatnya, anda benar‐benar harus memastikan jerat tersebut bisa membuat binatang yang terjerat tidak bisa melepaskan diri.

Jika membuat jerat tiang pegas atau jerat yang membuat hewan tangkapan jadi menggantung, pastikan jerat tersebut memiliki kekuatan untuk mengangkat hewan yang cukup gemuk sekalipun dari permukaan tanah, dan aturlah jerat tersebut bisa mengangkat hewan cukup tinggi agar tidak bisa dijangkau oleh hewan predator lainnya, paling tidak lima meter dari permukaan tanah.
Sering melatih diri dalam membuat jerat akan membuat anda jadi terasah dan juga bisa lebih berinovasi dalam membuat sebuah jerat.

Perlengkapan Esensial di gunung


Anda tidak akan pernah tahu kapan Anda akan mengalami tersasar di gunung, atau istilah kerennya situasi survival. Banyak para pendaki gunung, atau day hiker yang mengalami situasi ini tanpa mereka sadari sebelumnya. Bagi pendaki yang selalu penuh persiapan baik mengenai pengetahuan survival maupun perlengkapan survival kits nya akan lebih penuh percaya diri dalam menghadapi situasi survival yang tiba-tiba sudah berada dihadapannya. Survival kits yang dijual dipasaran dewasa ini ada banyak beragam jenis dan penggunaan, MountMag merekomendasi kan 10 perlengkapan esensial yang pelru selalu dimiliki oleh pendaki gunung sebagai tambahan pada survival kits umum yang selama ini selalu ada dalam kantong survival kits Anda.

  1. Handphone
Dengan kemajuan teknologi, banyak HP smartphone yang beredar dengan fitur-fitur menunjang navigasi selain itu jakauan BTS sinyal di Indonesia sudah cukup lumayan bisa menjangkau beberapa pegunungan. Sehingga HP akan sangat membantu pendaki/hiker yang tersasar untuk mengontak temannya dan memberitahukan posisinya. Sehingga SAR bisa bergerak cepat.

  2. Peta 
Peta area lokasi dimana berkegiatan, namun perlu diingat bawalah peta sesuai dengan lokasi Anda, terkadang peta satu gunung terlalu luas, sehingga badan pembuat peta membaginya menjadi beberapa bagian, jadi bawalah peta sesuai lokasi pendakian anda agar efektif penggunaannya.

3. Kompas
Tak pelak lagi merupakan barang wajib yang harus dipunya oleh penggiat alam bebas dan sudah tentu harus mengerti cara menggunakannya

4. P3K kits
Satu set kecil P3K kits akan sangat berguna bagi anda di alam bebas, bawalah obat-obat yang sesuai dengan medan yang akan Anda hadapi dan juga obat untuk penyakit khusus jika Anda memiliki riwayat sebuah penyakit kambuhan misalnya jika berpenyakit asma, maka oksigen kecil inhaler pastinya akan Anda
butuhkan untuk berjaga-jaga, atau obat mag bagi penderita mag.

 5. Senter/headlamp
Senter atau bisa juga headlamp saya masukan kedalam 10 perlengkapan esensial karena perlengkapan ini akan sangat Anda butuhkan saat berada dialam bebas, biarpun Anda dalam perjalanan hiking satu hari pulang pergi ada baiknya senter ataupun headlamp Anda bawa karena Anda tidak akan pernah tahu nasip yang akan membawa Anda, bisa saja Anda tersasar dan melewati malam di tengah hutan, dengan memiliki senter Anda memiliki penerangan yang sudah akan pasti mempengarui juga tingkat rasa percaya diri Anda melewati malam terlebih jika Anda seorang diri. Selalu juga sertakan cadangan battery khusus untuk senter Anda, hindari membawa senter-senter hias seperti yang banyak dijual akhir-akhir ini belilah senter yang memang ditujukan untuk kegiatan pendakian gunung karena memang dirancang tangguh terhadap medan alam bebas.

6. Lighter(korek gas) dan fire starter
Kecil tapi sangat esensial, Anda akan sangat membutuhkannya untuk membuat api. Selalu bawa dua lighter untuk berjaga-jaga. Fire starter juga akan menjadi sangat beguna disaat lighter Anda sudah tidak berfungsi kedua-duanya.
 
 7. Hypothermia blanket
Perlengkapan yang biasanya digunakan untuk menyelamatkan penderita hypothermia ini juga akan sangat bermanfaat disaat darurat, bisa Anda jadikan bivy sack darurat. Bahkan karena terbuat dari aluminium foil dengan sendirinya hyporthemia blanket gunung dimana anda menghadapi situasi survival. ini tahan air dan sangat berguna sebagai tempat perlindungan dari hujan. Selain itu sudah pasti berguna memberikan kehangatan untuk Anda saat melewati malam yang dingin di tengah hutan gunung dimana anda menghadapi situasi survival.


 8. Whistle atau peluit
Terkadang suara teriakan tidak cukup jauh jarak tempuhnya untuk didengar orang, memiliki peluit akan sangat membantu Anda dalam memberikan komunikasi pada rekan Anda saat Anda terpisah dari kelompok atau pun pada tim SAR yang kemungkinan tidak melihat Anda tapi Anda bisa melihat mereka, namun akan lebih baik juga jika Anda menghafal korde dasar morse agar komunikasi permintaan bantuan Anda bisa mudah dimengerti.

 9. Botol Air
Banyak pendaki gunung yang kadang mengabaikan hal ini, padahal botol air (bukan botol air mineral) akan memberikan nilai tambah untuk Anda saat dalam situasi survival, seperti yang diketahui air adalah elemen paling penting dalam survival, orang dewasa bisa bertahan 3 minggu tanpa makanan tapi hanya 3 hari tanpa air. Dengan memiliki botol minum Anda juga seperti memiliki asuransi untuk bertahan hidup, karena Anda mempunyai wadah tempat menyimpan air yang bisa digunakan setiap Anda menemukan sumber-sumber air.

10. Signal Miror
Dewasa ini sudah banyak dijual dipasaran signal mirror yang memang dirancang khusus untuk memberikan signal minta bantuan atau memberitahukan posisi pada helikopter tim SAR yang mungkin tidak melihat Anda dari udara. Keuntungan dari singal mirror ini dibanding kaca biasa adalah ada lubang bidiknya, jadi kita tinggal mengarahkan pada helikopter dan dengan sendirinya titik pantulan dari cahaya matahari akan pas mengenai helikopter tersebut.

Ke 10 perlengkapan esensial tersebut diatas akan sangat berguna saat Anda berada dalam keadaan darurat tersasar di tengah hutan gunung. Ingatlah selalu persiapan yang baik dan perhitungan yang matang dalam perencanaan perjalanan pendakian Anda kadang memberikan keuntungan tambahan disaat situasi darurat tiba-tiba sudah ada didepan Anda.

Menghindari Kemungkinan Tersesat di Gunung





Ambil setiap langkah yang bisa mencegah tersesat
Belajar navigasi darat (peta dan kompas). Sebelum mendaki, pelajari peta area gunung dan biasakan dengan tanda medannya seperti sungai, punggungan, puncak, dan tanda lainnya. Beritahukan rencana perjalanan pada keluarga atau teman. Ketika sampai di lokasi dan mulai mendaki, amati topografi medan (punggungan, puncak, sungai, dan lainnya). Semua bisa menjadi titik referensi yang bagus saat kita di ketinggian.

Biasakan selalu membawa peta dan kompas
saat mendaki. Jika kehilangan arah, berhentilah, keluarkan peta dan lihat sekeliling untuk mencari tanda medan yang bisa dikenali. Pelajari dengan tenang peta dan medan sekeliling anda setidaknya lima menit. Untuk membantu orientasi,

naik ke punggungan atau tempat tinggi, sehingga akan memudahkan mengenali perbukitan atau sungai yang bisa ditandai di peta. Tetapi jangan mengembara terlalu jauh dari rute asli, terlebih jika tidak memiliki peta.

Jika masih tersesat lakukan S.T.O.P (Stop, Think, Observe, dan Plan) atau berhenti, berpikir, mengamati, dan merencanakan. Cobalah kembali ke lokasi terakhir sebelum tersesat jika masih dalam jarak wajar. Putuskan segera tindakan dan taatilah. Yang paling penting, jangan panik, hematlah energi. Jika tidak bisa menemukan tanda-tanda alam yang bisa dikenali saat mencoba kembali, diam di tempat. Jika membawa peluit, tiup dengan interval teratur agar bisa didengar tim SAR atau pendaki lain. Selain itu bersiaplah menyusun rencana survival atau rencana bertahan hidup.